Friday, June 5, 2009

TJ : Pergaulan Dalam Islam, Penghulu Istighfar

Tazkirah Jumaat
11 Jamadil Akhir 1430 / 5 Jun 2009

PERGAULAN DALAM ISLAM

Firman Allah taala dalam surah Al Isra’ ayat 32 yang maksudnya, “Janganlah kamu mendekati zina, kerana sesungguhnya ia adalah perbuatan yang keji dan cara yang tidak baik.” Seandainya diteliti kepada keseluruhan agama samawi, maka kita akan dapati bahawa semuanya mengharamkan penzinaan, tanpa mengira sama ada Yahudi, ataupun Kristian. Kalau ditinjau dari segi logiknya penzinaan itu dapat menjurus kepada pengaburan masalah keturunan, menghancurkan rumah tangga, meretakkan perhubungan, berleluasanya penyakit dan bermacam-macam lagi. Islam, sebagai suatu agama yang syumul, apabila mengharamkan suatu perkara, maka ditutupnya jalan-jalan yang akan membawa kepada perbuatan haram itu, serta mengharamkan cara apa sahaja perkara yang menjadi mukaddimah kepada suatu pekerjaan yang haram itu.


PERGAULAN BEBAS ADALAH HARAM

Diantara perkara yang diharamkan oleh Islam adalah bersendirian dengan seorang perempuan lain (bukan isteri, bukan salah satu kerabat yang haram dikahwini untuk selama-lamanya, seperti ibu, adik-beradik, ibu saudara dan sebagainya). Ini bukanlah bererti menghilangkan kepercayaan kedua belah pihak atau salah satu daripadanya tetapi demi menjaga kedua insan tersebut dari perasaan yang tidak baik yang lazimnya lahir apabila dua insan yang berlawanan itu bertemu, tanpa ada orang yang ketiga.

Sepertimana sabda nabi yang diriwayatkan oleh Ahmad,” Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, kerana yang ketiga adalah syaitan. ”Manakala dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari yang maksudnya, ”Hindarilah keluar masuk rumah seorang perempuan. Kemudian ada seorang lelaki ansar bertanya: Ya Rasulullah. Bagaimana pendapatmu tentang ipar? Maka jawab nabi, Bersendirian dengan ipar itu, bersamaan dengan menjumpai mati.”

Ketahuilah bahawa semua larangan nabi ini adalah demi menjaga keharmonian dan kesejahteraan masyarakat. Mungkin kita akan berasa seronok apabila melakukan sesuatu kejahatan terhadap orang lain tetapi pernahkah kita berfikir seandainya sesuatu kejahatan itu dilakukan terhadap kita, adakah kita akan berdiam diri? Seperti mana dalam suatu kisah di zaman nabi Muhammad s.a.w. Seorang pemuda yang baru memeluk Islam datang kepada nabi lalu meminta keizinan untuk berzina. Lalu nabi bertanya kepadanya, mahukah kamu seandainya seeorang itu berzina dengan ibumu atau saudara perempuanmu? Selepas daripada peristiwa tersebut, perkara yang paling dibencinya adalah zina.


MELIHAT JENIS LAIN DENGAN BERSYAHWAT

Diantara suatu perkara yang diharamkan oleh Islam ialah gharizah iaitu pandangan seorang lelaki terhadap perempuan dan begitu juga sebaliknya. Mata adalah kunci hatinya dan pandangan adalah jalan yang membawa fitnah dan sampai kepada perbuatan zina. Bak kata seorang penyair arab,” Semua peristiwa asalnya kerana pandangan, Kebanyakan orang masuk neraka adalah kerana dosa kecil. Permulaannya pandangan, kemudian senyum, lantas memberi salam, kemudian berbicara, lalu berjanji. Dan sesudah itu ia bertemu.”

Lantaran itu, Allah memerintahkan kepada hamba-hambanya di dalam surah An Nur, ayat 31-32 agar menjaga pandangannya diiringi dengan perintah untuk memelihara kehormatan dirinya. Sesungguhnya pandangan yang terpelihara ialah apabila memandang kepada jenis lain, tidak mengamat-amati kecantikannya dan tidak lama menolah kepadanya serta tidak melekat pandangannya kepada yang dilihatnya itu. Oleh itulah, nabi berpsan kepada Saidina Ali yang bermaksud,”Hai Ali, Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan yang lainnya. Kamu hanya boleh pada pandangan yang pertama, adapun pandangan yang berikutnya adalah tidak boleh.” (HR Ahmad)

Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. menganggap pandangan liar dan menjurus kepada lain jenis sebagai suatu perbuatan “zina mata”. Sabda baginda lagi yang maksudnya, ”Dua mata itu bisa berzina dan zinanya adalah melihat.(HR Bukhari) Ia dinamakan berzina kerana memandang itu adalah slah satu bentuk bersenang-senang dan memuaskan nafsu syahwat dengan jalan yang tidak dibenarkan oleh syara’. Larangan Allah ini bukanlah sesuatu yang tidak bermanfaat dan sia-sia kerana pandangan yang terdorong oleh nafsu ini bukan sahaja membahayakan kemurnian budi bahkan akan merosakkan kestabilan berfikir dan ketenteraman hati. Maka berkatalah seorang penyair:”Apabila engkau melepaskan pandanganmu untuk mencari kepuasan hati. Pada satu saat pandangan-pandangan itu akan menyusahkanmu jua. Engkau tidak mampu melihat semua yang kau lihat. Tetapi untuk sebagainya maka engkau tidak bisa tahan.”


HARAM MELIHAT AURAT

Di antara yang harus ditundukkan pandangan, ialah kepada aurat. Kerana Rasulullah saw telah melarang walaupun antara sesama lelaki dan antara sesama perempuan untuk mendedahkan aurat masing-masing, sama ada dengan syahwat ataupun tidak. Sabda nabi saw yang mafhumnya, “Seseorang lelaki tidak boleh melihat aurat lelaki lain dan begitu juga perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan lain ...” (Hadis Riwayat Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi). Aurat lelaki yang tidak boleh dilihat oleh lelaki atau aurat perempuan yang tidak boleh dilihat oleh perempuan ialah antara pusat hingga ke lutut. Manakala aurat perempuan dalam perhubungannya dengan lelaki ialah seluruh badannya kecuali muka dan tapak tangan.

http://members.tripod.com/~SinarOnline/Edisi8/Fokus3.htm


HADITS SAYYIDUL (PENGHULU) ISTIGHFAR


Ya, Allah Engkaulah Tuhanku, Tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkaulah yang menjadikan aku. Sedang aku adalah hambaMu dan aku di dalam genggamanMu dan di dalam perjanjian setia ( beriman dan Taat ) kepadaMu sekuat mampuku. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan yang telah ku lakukan. Aku mengakui atas segala nikmat yang telah Engkau berikan kepada ku dan aku mengaku segala dosaku. Maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni segala dosa kecuali Engkau. Amin

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah tentang sabda Nabi, Sayidul Istighfar yaitu seorang hamba mengatakan “Allahumma anta rabbi laailaahailla anta” hadits ini mencakup pengetahuan yang berharga yang karenanya dikatakan sebagai sayidul istigfar. Karena inti hadits ini adalah pengenalan hamba tentang Rububiyyah Allah, kemudian mengagungkan-Nya dengan tauhid Uluiyyah (Laa ilaaha illa anta) kemudian pengakuan bahwa Dialah Allah yang menciptakannya dan mengadakannya yang sebelumnya tidak ada , maka Dia yang lebih layak untuk berbuat ihsan kepada-Nya atas ampunan dosanya sebagaimana perbuatan ihsan atasnya karena penciptaan dirinya

Kemudian perkataan “Wa ana abduka“ yaitu keyakinannya akan perkara ubudiyah, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan Ibnu Adam untuk diri-Nya dan beribadah kepda-Nya sebagaimana disebutkan dalam sebagian atsar Allah Ta’ala berfirman : "Wahai Ibnu Adam Aku ciptakan engkau untuk-Ku dan Aku ciptakan segala sesuatu karenamu, maka karena hak-Ku atasmu maka jangan kau sibukan dengan apa yang telah Aku citpakan untukmu dari yang Aku ciptakan kamu untuknya (ibadah)."

Di dalam atsar yang lain disebutkan : “Wahai Ibnu Adam Aku ciptakan engkau untuk beribadah kepada-Ku maka jangan bermain-main, dan Aku telah menjaminmu dengan rizkimu maka jangan merasa lelah (dari berusaha), Wahai Ibnu Adam mintalah kepada-Ku niscaya engkau akan dapati Aku, jika engkau mendapatkan Aku maka engkau akan mendapatkan segala sesuatu, jika engkau luput dari Aku maka engkau akan luput pula dari segala sesuatu, dan Aku mencintai kamu dari segala sesuatu.”

Maka seorang hamba apabila keluar dari apa yang Allah ciptakan untuknya berupa ketaatan dan ma’rifat kepada-Nya, mencintai-Nya, inabah (kembali) kepada-Nya dan tawakal atas-Nya, maka dia telah lari dari tuannya. Apabila taubat dan kembali kepada-Nya maka dia telah kembali kepada apa yang Allah cintai, maka Allah akan senang dengan sikap kembali ini. Oleh karena itu Nabi Shallahllahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang berita dari Allah : “Sesungguhnya Allah sangat gembira dengan taubatnya hamba dari pada gembiranya seseorang yang mendapatkan kembali tungganganya yang hilang di suatu tempat dengan membawa makanan dan minumannya, Dialah yang memberikan taufiq kepadanya dan Dia pula yang mengembalikan barangnya kepadanya.”

Maka ini adalah ihsan dan karunia Allah atas hamba-Nya. Maka hakikat dari ini adalah agar tidak ada sesuatu yang lebih dicintai hamba kecuali Allah.

Kemudian sabdanya : “Wa ana ala ahdika wawa’dika mastathotu", maka Allah menjanjikan kepada hamba-hamba-Nya dengan suatu perjanjian yang Allah perintahkan dan larang padanya, kemudian Allah menjanjikan bagi yang menunaikannya dengan suatu janji pula yaitu memberikan pahala bagi mereka dengan setinggi-tingginya pahala. Maka seorang hamba berjalan diantara pelaksanaan atas perjanjian Allah kepadanya dengan pembenaran akan janji-Nya, artinya saya melaksanakan perjanjian-Mu dan membernarkan akan janji-Mu.

Makna ini sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi : “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni baginya dosa-dosa yang telah lalu.” Perbuatan iman yaitu perjanjian yang Allah tawarkan kepada hamba-hanba-Nya sedang ihtisab yaitu pengharapan pahala Allah atas keimanan. Maka ini tidaklah pantas kecuali harus bersamaan dengan sikap pembenaran atas janji-Nya. Dan sabdanya “Imanan wah tisaaban” ini adalah manshub atas maf’ul lahu yang sesungguhnya terkandung padanya pengertian bahwa Allah mensyariatkan, mewajibkan, meridhoinya dan memerintahkan dengannya. Sedang mengharap pahala dari Allah yaitu dengan mengerjakan amalan dengan ikhlas disertai mengharap pahala-Nya.

Sabdanya “mastatho’tu” yaitu bahwa tidaklah aku melaksanakan semua itu kecuali sebatas kemampuanku bukan atas apa yang semestinya dan wajib bagiku. Ini menunjukan dalil atas kekuaran dan kemampuan hamba, dan bahwasanya hamba tersebut tidaklah dipaksa atasnya, bahkan baginya ada kemampuan yaitu berupa beban perintah, larangan, pahala dan siksa. Pada hadis tersebut terdapat bantahan atas Qodariyah yang mengatakan bahwa sesungguhnya bagi hamba tidak memiliki kekuasaan, kemampuan atas perbuatanya sama sekali, akan tetapi hanya siksa Allah atas perbuatan-Nya bukan atas perbuatan hamba-Nya. Pada hadits ini juga terdapat bantahan terhadap kelompok Majusiyah dan selain mereka

Kemudian perkataan : “Audzubika min syarri ma shana’tu”

Berlindung kepada Allah kemudian menggantungkan diri kepada-Nya, membentengi diri dengan-Nya, lari kepada-Nya dari apa yang dia takutkan, sebagaimana seorang yang lari dari musuh dengan berlindung di balik prisai yang menyelamatkan dia darinya. Pada hadits ini ada penetapan tentang perbuatan dan usaha dari hamba. Dan bahwa kejelekan disandarkan kepada yang berbuat bukan kepada pencipta dari kejelekan itu, maka perkataan “Audzubika min syari ma shana’tu." Bahwa kejelekan itu hanya dari hamba, adapun Rabb maka baginya nama-nama yang baik dan segala sifat yang sempurna. Maka setiap perbutan-perbuatan-Nya penuh hikmah dan maslahat, hal ini dikuatkan dengan sabdanya : “... dan kejelekan itu bukan kepada-Mu." (HR Muslim dalam Doa istiftah)

Kemudain perkataan “Abuu bini’matika alayya“ artinya aku mengetahui akan perkara ini, yaitu aku mengenalmu akan pemberian nikmat-Mu atasku. Dan sesungguhnya aku adalah orang yang berdosa, dari-Mu perbuatan ihsan dan dariku perbutan dosa, dan aku memuji-Mu atas nikmat-Mu dan Engkaulah yang lebih berhak atas pujian dan aku meminta ampun atas dosa-dosaku.

Oleh karena itu berkata sebagian orang-orang arif : semestinya bagi seorang hamba agar jiwanya mempunyai dua hal yaitu jiwa yang senatiasa memuji rabbnya dan jiwa yang senatiasa meminta ampun atas dosanya. Dari sini ada sebuah kisah Al Hasan bersama seorang pemuda yang duduk di masjid seorang diri dan tidak bermajlis kepadanya, maka ketika suatu hari lewat kepadanya beliau berkata : “Apa sebabnya engkau tidak bermajelis dengan kami, maka pemuda itu menjawab ' pada waktu itu aku berada diantara nikmat Allah dan dosaku yang mengharuskan aku memuji-Nya atas nikmat tersebut dan istighfar atas dosaku, dan aku ketika itu sibuk memujinya dan beristighafar kepada-Nya dari bermajelis kepadamu', maka berkata Al Hasan : Engkau lebih fakih menurutku dari Al Hasan."

Dan kapan seorang hamba bersaksi dengan dua perkara ini maka akan istiqomahlah peribadatannya kepada-Nya dan akan naik kepada derajat ma’rifat dan iman sehingga akan terus merasa kecil dihadapan Allah maka akan semakin tawadhu kepada Rabbnya, dengan demikian ini adalah kesempurnaan peribadatan Kepada-Nya dan berlepas diri dari sikap ujub, sombong dan tipuan amal. Dan Allah-lah yang memberi petunjuk serta taufiq, segala puji hanya bagi Allah shalawat dan salam atas penghulu kita Muhammad , keluarga dan shahabatnya dan mudah-mudahan ridha Allah atas shahabat Rasulullah semuanya dan cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baiknya pelindung.

Dari tulisan : Muhammad bin Ishaq at Tamimi Ad Daari Al Hanafy
Dinukil dari Jamiul Masail Karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
Tahqiq : Muhammad Uzair Syamsu ; Isyraf : Bakr Abu Zaid

http://www.geocities.com/dmgto/hadits201/sayyidul.htm

No comments: