Friday, November 15, 2013

TJ 15 Nov. 2013 : APABILA KEBERKATAN DICABUT, AR-RAZZAQ, RIZKI-MU TAK HABIS DIBAGI, YA RAZZAQ

Tazkirah Jumaat
15 Nov. 2013 (11 Muharram 1435H)

MOTIVASI DARIPADA HADIS NABI SAW  (15 NOVEMBER 2013)
(DARIPADA USTAZ MOHAMAD RAZI BIN HAJI ZULKIFLI, BENTONG, PAHANG DARUL MAKMUR)
APABILA KEBERKATAN DICABUT

Salah satu tanda-tanda kiamat kecil ialah waktu yang terasa semakin singkat. Rasulullah SAW  telah mengambarkan perkara ini dalam hadisnya:

Yang Bermaksud: “ Waktu akan semakin singkat, amal akan berkurangan, bakhil akan dijumpai, fitnah akan menyebar dan banyak terjadi pembunuhan.”

Hadis riwayat Bukhari, kitab Adab no.6037 dan Muslim, kitab al’Ilm no. 6792.

KETERANGAN:

Para ulama tidak mentafsirkan “singkatnya waktu” dengan bertambahnya kecepatan putaran bumi sehingga misalnya, jumlah masa dalam satu hari berkurang menjadi 23 jam. Pentafsiran seperti ini tentunya bertentangan dengan logic kerana jika kita memutarkan sebiji bola pada titik tertentu, tentulah laju putarannya semakin lama semakin berkurang bukannya semakin bertambah.

Oleh itu, para ulama hadis mengajukan beberapa pentafsiran tentang perkara ini. Sebahagian ulama seperti Qadi ‘Iyad, an-Nawawi dan Ibn Abi Jamrah mentafsirkan singkatnya waktu ini dengan hilangnya keberkatan. Mereka berkata, “Maksud singkat waktu ialah hilangnya keberkatan waktu tersebut sehingga pada satu hari misalnya, tidak dapat dimanfaatkan seluruhnya melainkan Cuma beberapa jam sahaja.

Pendapat ini dikuatkan oleh Ibn Hajar dalam Fath al Bari, katanya , “Hadis ini  bermaksud bahawa Allah Subhanahuwataala mencabut semua keberkatan daripada segala sesuatu, termasuk keberkatan waktu dan ini merupakan salah satu tanda dekatnya Kiamat.”

(Sumber: Kompas umat akhir zaman, Ustaz Umar Muhammad Noor)


AR-RAZZAQ, RIZKI-MU TAK HABIS DIBAGI

Aku tidak menghendaki sedikitpun rizki dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rizki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kukuh. (QS. Adz-Dzariyaat: 57-58)

Kata Ar-Razzaq hanya bisa kita temukan dalam al-Qur’an sekali saja, sebagaimana yang disebut di awal tulisan ini. Te­tapi yang menggunakan akar kata yang sama, ra-za-qa dapat kita jumpai di banyak surat dan ayat al-Qur’an.

Pada awalnya rezeki itu bermakna tunggal, yaitu pemberian untuk jangka waktu tertentu. Makna ini sekaligus mem­bedakan antara rezeki dengan hibah, atau antara makna Ar-Razzaq dengan Al-Wahhab. Dalam perkembangannya makna rezeki itu meluas dan melebar, kadang bermakna pemenuhan keperluan, gaji, juga hujan yang turun dari langit, bahkan anugerah kenabian pun disebut sebagai rezeki, sebagaimana perkataan Nabi Syuaib kepada kaumnya:

“Wahai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan Dia menganugerahi aku dari-Nya rizki yang baik (yakni kenabian)?” (QS. Huud: 88)

Dengan demikian, maka rizki itu bisa meliputi segala pemberian yang dapat dimanfaatkan, baik bersifat material maupun spiritual. Rizki itu tidak hanya bersifat kebendaan, tapi juga bisa berupa kebahagiaan, sembuh dari sakit, kesempatan beribadah dengan baik, hidayah, dan banyak lagi lainnya. Sungguh tak terhingga rizki yang telah diberikan kepada kita.

Setiap makhluk hidup telah dijamin rizkinya oleh Allah, apalagi manusia. Tak seorangpun dibiarkan hidup tanpa jaminan rizki, sebagaimana firman-Nya:

“Dan tidak satu binatang melata yang bergerak di muka bumi, kecuali Allah telah menjamin rizkinya.” (QS. Huud: 6)

Karenanya, tidak ada alasan bagi manusia untuk mencari rizki yang haram, sebab rizki yang halal sudah disediakan buat mereka. Hanya saja mereka kurang bersabar atau mereka kurang puas (tidak qanaah). Andai saja mereka sedikit bersabar atau memiliki sifat qana’ah, tentulah mereka akan mendapatkan rizki yang baik dan halal.

Tentu saja rizki itu tidak datang begitu saja, melainkan harus diusahakan dengan sungguh-sungguh sesuai dengan “sunnatullah”. Bukankah semua manusia terikat oleh hukum-hukum yang mengatur makhluk dan kehidupannya? Sesungguhnya rasa lapar dan hausnya, hingga naluri untuk mempertahankan dirinya merupakan jaminan rizki dari Allah. Tanpa rasa lapar, tanpa insting mempertahankan diri, manusia tak terdorong untuk mencari makan (bekerja).

Bersamaan dengan itu, Allah SWT menghamparkan bumi yang di dalam dan di atasnya terdapat rizki yang berlimpah ruah. Segala yang dipelukan manusia terdapat di sini, berapapun besarnya jumlah penduduk bumi.

Jarak antara manusia dengan rizkinya lebih jauh dibandingkan dengan binatang, apalagi tumbuh-tumbuhan. Allah menyiapkan rizki pada tumbuhan di tempat tumbuhnya, sedang bagi binatang disediakan dalam jumlah yang banyak, hanya saja harus ada usaha untuk mendapatkannya. Bezanya dengan manusia, jika binatang cukup dengan bersandar kepada nalurinya, sedang manusia harus berusaha dengan menggunakan akal, ilmu, dan sedikit teknologi.

Allah telah menyiapkan sarana yang cukup, sedang manusia diperintahkan untuk mengolahnya. Pengelolaan itulah yang menjadi nilai tambah. Itulah rizki, sebab Allah mendatangkan rizkiNya melalui keterlibatan tangan-tangan makhluk-Nya. Itulah sebabnya, Al-Qur’an memilih kata “Nahnu” atau “Kami” ketika berbicara tentang pemberian rizki, sebagaimana firman-Nya:

“Kami memberi rizki kepadamu dan kepada mereka anak keturunanmu.” (QS. Al-An’Am: 151)

Jaminan rizki itu juga diberikan ke­pada “Daabat” yang berarti makhluk melata yang bergerak. Kata bergerak itu menjadi sangat penting, sebab jangan berharap mendapatkan rizki dari-Nya sementara kita tinggal diam, menunggu, pasif, malas bekerja, atau bekerja tanpa ilmu, tanpa akal, dan tanpa teknologi. Untuk mendapatkan zamzam, Siti Hajar harus lari-lari dari bukit Shafa dan Marwa. Itulah pelajaran sya’i yang kita dapatkan dari ibadah haji.

Bagaimana cara meneladani sifat Allah Ar-Razzaq? Sangat mudah, kita hanya dituntut untuk membagikan (sharing) dari sebagian rizki yang telah dianugerahkan oleh-Nya untuk para fakir miskin dan orang-orang yang lebih memerlukan.

“Dan nafkahkanlah sebagian dari apa yang Kami rizkikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 54)

Ketika perintah ini kita laksanakan, ketika kita membagikan sedikit rizki Allah kepada mereka yang berhak menerimanya, maka saat itu sesungguhnya kita sedang meneladani akhlak Allah, Ar-Razzaq. Mudah-mudahan kita bisa menjalankannya. (Hamim Thohari)

http://esq-news.com/asmaul-husna/2010/11/23/ar-razzaq-rizki-mu-tak-habis-dibagi.html


YA RAZZAQ

1. Baca 380 kali tiap-tiap hari, insha Allah ditunaikan hajatnya kepada raja atau pemerintah.

2. Baca 17 kali, insha Allah hajatnya akan dimakbulkan.

3. Baca 20 kali pada waktu pagi sebelum makan dan minum tiap-tiap pagi selama 20 hari, insha Allah akan mendapat fahaman yang dalam dan sempurna.

4. "Ya Razzaq!" dizikir mengikut kemampuan sesudah solat fardhu khususnya solat subuh, Insya Allah akan dipermudahkan rezeki yang halal & membawa berkat. Rezeki akan datang tanpa diduga!! tetapi perlulah dilakukan dengan ikhtiar yang zahir.

Salam Maal Hijrah 

No comments: